Rabu, 04 September 2013

BENTUK DUNI PADA SITUS LEANG DATU KABUPATEN ENREKANG
 (STUDI KOMPARASI)

1.      Pendahuluan
Keberadaan manusia yang ada pada tempatnya sekarang merupakan proses migrasi yang sangat panjang dan sudah dilakukan nenek moyang mereka sejak ribuan bahkan jutaan tahun silam. Begitu pula orang-orang yang mendiami Asia Tenggara daratan dan kepulauan, pulau-pulau di sekitar lautan Hindia dan Pasifik Selatan yang tidak lain mereka adalah bangsa Austronesia[1], dengan kemampuan navigasi yang baik tidak mengherankan ¼ bagian belahan dunia dihuni oleh mereka. Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan, menunjukkan bahwa bangsa Austronesia berasal dari Tiongkok bagian pesisir tenggara (Devin, 2009:1-2).
Salah satu jalur migrasi yang dilalui bangsa Austronesia ialah Kepulauan Nusantara, tinggalan budaya bangsa Austronesia yang cukup banyak ditemukan di Nusantara  berkaitan dengan kematian yaitu wadah kubur dari kayu, yang ditemukan dibeberapa daerah dan salah satunya berada di kepulauan Sulawesi, khususnya dalam wilayah budaya Toraja[2] yang termasuk dalam ras Proto Melayu. Seperti Kabupaten Enrekang misalnya, memiliki tinggalan wadah kubur kayu, yang disebut Duni
Beberapa situs yang ditemukan memiliki duni antara lain di Situs Liang Datu atau yang biasa disingkat Situs Landatu[3], Situs Tonton 1 & Tonton 2, Situs Leoran, situs yang ada di Kaluppini dan beberapa situs lainnya. Hasil penelitian yang dilakukan diketahui, duni merupakan wadah yang digunakaan sebagai tempat menyimpan mayat dan ditempatkan pada ceruk atau tebing pada bukit karst. Bentuk duni yang  banyak ditemukan yaitu bentuk yang menyerupai perahu (hal ini berkaitan dengan kedatangan nenek moyang mereka), serta hampir semua situs di Enrekang bentuk wadahnya persegi empat panjang dengan berbagai varian penutup wadah.
Melihat gejala arkeologis yang disebutkan dan jika dikaitan dengan wilayah budaya[4] ini merupakan sesuatu yang unik, seperti yang diketahui di Tana Toraja (Tondok Lempongan Bulan Matari’ Allo) memiliki banyak tinggalan wadah kubur yang disebut erong seperti pada Situs Kete’kesu, bentuknya menyerupai perahu, rumah adat Toraja bahkan ada beberapa erong yang ditemukan berbentuk anatomi binatang seperti Kerbau dan Babi. Jika dilihat dari wadahnya mempunyai bentuk segiempat panjang, bulat lonjong atau oval. Di Mamasa pada Situs Buntu Balla dan Paladan, bentuk wadah kuburnya berbentuk persegi empat dan ada juga wadah kubur yang bentuknya hampir dikatakan bulat, besar-besar dan menyerupai anatomi binatang Kerbau serta ada juga wadah yang memadukan bentuk kepala Kerbau dengan kepala Kuda.




Description: Description: E:\E_SRI\folder penting\TEMUAN DUNI\DUNI_5\Duni 5.3 - Copy.JPG
Description: Description: E:\E_SRI\folder penting\TEMUAN ERONG\ERONG_18\IMG_0156 - Copy.JPG
Description: Description: E:\E_SRI\folder penting\TEMUAN TEDONG2\TEDONG_4\13 - Copy.JPG
Foto 1: Bentuk duni di Enrekang (Kiri), bentuk erong di Toraja (tengah) dan bentuk tedong-tedong di Mamasa (kanan)

2.      Rumusan Masalah
Peranan Kabupaten Enrekang dalam proses migrasi Suku Toraja memang memegang peranan penting, menurut Albert C. Kruyt dan Adriani mengatakan bahwa Enrekang merupakan daerah yang dilalui dalam jalur imigrasi Suku Toraja. Enrekang juga menjadi tempat bermukim pertama kali, serta tempat berkembangnya budaya Toraja yang berada di daerah Rura dan Bambapuang yang termasuk dalam Kabupaten Enrekang sekarang. Tidak mengherankan bila di kabupaten tersebut banyak tinggalan arkeologi ditemukan khususnya yang menyangkut dengan wadah kubur yaitu duni, yang juga memiliki kesamaan dengan bentuk wadah kubur di Toraja dan Mamasa, walaupun begitu jika diamati secara cermat terdapat beberapa perbedaannya seperti yang dijelaskan di atas.
Hal inilah yang menjadi pertanyaan bagi penulis, mengapa dalam suatu kebudayaan yang sama tetapi dalam hal tinggalan budayanya berbeda dan apa yang menyebabkan hal tersebut, maka penulis kemudian mencoba mengangkatnya sebagai tema penelitian,yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian. Adapun pertanyaan penelitiannya yaitu sebagai berikut:
1.      Apa persamaan dan perbedaan duni pada Situs Liang Datu dengan wadah kubur di Toraja dan Mamasa?
2.      Faktor-faktor apa yang melatar belakangi perbedaan dan persamaan bentuk-bentuk duni pada Situs Liang Datu dengan wadah kubur di  Toraja dan di Mamasa?

3.      Tujuan Penelitian
Para pakar arkeologi sepakat bahwa dalam disiplin ilmu arkeologi memiliki tiga tujuan yaitu 1). Merekonstruksi sejarah budaya, 2). Merekonstruksi tingkah laku/cara-cara hidup manusia masa lampau, dan 3). Menjelaskan proses-proses budaya. Dengan melihat ketiga tujuan arkeologi tersebut maka tujuan umum yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini yaitu merekonstruksi tingkah laku/cara-cara hidup manusia masa lampau, namun secara khusus tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan duni di Situs Liang Datu dengan wadah kubur lainnya di daerah pembanding.
2.      Untuk mengetahui faktor-faktor  yang melatar belakangi bentuk-bentuk duni pada Situs Liang Datu berbeda dengan bentuk Erong di  Toraja dan  Tedong-tedong di Mamasa.

4.      Kerangka Hipotesis
Nama Toraja digunakan pertama kali dalam penelitian Albert C. kruyt dan Adriani untuk mengganti nama Arfuru, nama Toraja sendiri diambil dari nama yang biasa digunakan orang Luwu untuk menyebut orang-orang yang bermukim di sebelah barat ke arah pedalam yang pada umumnya menempati daerah ketinggian di jazirah Sulawesi dengan sebutan riaja atau raja (darat atau atas) yang kemudian dikenal menjadi  nama suatu etnis, yaitu Toraja.
Ada dua gelombang migrasi yang masuk ke wilayah budaya Toraja, migrasi pertama adalah kelompok pendukung kebudayaan  megalitik yang disebut Steenhouwers (kelompok pemecah batu). Mereka diperkirakan datang dari dua arah, pertama (dari utara) diduga berasal dari kepulauan Jepang, memasuki Sulawesi Utara, terus ke Sulawesi Tengah dan masuk ke Sulawesi Selatan. Kedua, melalui sungai Sa’dan yang dimulai dari muara hingga ke hulu dengan menggunakan perahu, dan tiba di suatu tempat bernama Bambapuang yang sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Enrekang dan menyebar lagi ke jazirah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
Migrasi kedua adalah kelompok pendukung kebudayaan tembikar yang disebut De Pottenbakkers (pembuat tembikar), diperkirakan masuk melalui arah timur antara daerah Malili dan Wotu di pantai Teluk Bone dan terus menyebar ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Migrasi kedua ini turut serta membawa kebudayaan baru, terutama dalam kehidupan  religi yang mengenal sejumlah dewa dan upacara keagamaan, kehidupan sosial mulai mengenal sistem pelapisan sosial dan sejumlah aturan-aturan hidup, dan kehidupan ekonomi yang memperkenalkan teknik irigasi dan penanaman padi. 
Awalnya Enrekang dan Tana Toraja hanyalah satu daerah, pada waktu itu penduduk mula-mula bertempat tinggal di suatu kampung bernama Bambapuang yang dikenal sekarang sebagai Kampung Rura dan disitu juga diperkirakan berkembangnya Budaya Toraja, setelah berpuluh-puluh tahun bahkan ratusan tahun lamanya tinggal di Bambapuang, akhirnya sebagian besar penduduk meninggalkan tempat tersebut yang dibagi dakam tujuh kelompok yang menyebar ke arah utara Sulawesi Selatan  dan sebagian lagi tetap tinggal di Bambapuang. Baik penduduk yang berimigrasi maupun yang tetap tinggal di Bambapuang kemudian melanjutkan kebudayaan Toraja yang lebih kompleks.   
Budaya Toraja sama halnya dengan budaya yang ada diseluruh dunia, pada umumnya memiliki tujuh unsur kebudayaan yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian hidup, sistem religi dan kesenian (Koendjaraningrat;218: 1980). Salah satu unsur yang paling menonjol dalam budaya Toraja yaitu sistem religi, masyarakat Toraja sejak zaman dulu mengenal adanya kepercayaan yang disebut Aluk Todolo, hal ini juga terdapat dibeberapa tempat yang masih masuk dalam kesatuan wilayah budaya Toraja, namun dalam hal penyebutannya berbeda-beda seperti di kabupaten Enrekang disebut Aluk Tojolo dan di Mamasa lebih dikenal dengan Aluk Tumatua, tapi pada dasarnya kepercayaan tersebut adalah sama yakni berorientasi tentang adanya kehidupan sesudah kematian dan mengatur segala aspek kehidupan manusia pendukungnya. Berikut beberapa persamaan budaya Toraja yang ada di Enrekang, Toraja dan Mamasa
 

5.      Metode Penelitian
Penelitian yang berbasis karya ilmiah tentunya tidak lepas dari tujuan yang ingin dicapai, untuk mencapai hasil yang maksimal dan dapat dipertanggung jawabkan, diperlukan suatu sistem kerja yang sistematik yang terangkum dalam sebuah metodologi. Metode yang digunakan tentu tidak lepas dari metode keilmuan yang mendasarinya yang dalam hal ini menggunakan metode arkeologi.
Adapun tahap-tahap dalam pelaksanaannya dimulai dari tahap metode pengumpulan data, yang dibagi lagi dalam dua tahap yaitu studi pustaka, merupakan metode awal yang digunakan untuk mencari data-data yang berkaitan dengan penelitian dari referensi buku-buku, makalah, artikel, hasil penelitian mahasiswa arkeologi yang dituangkan dalam bentuk skripsi, internet, bahkan sampai pada instansi-instansi yang mempunyai hubungan dengan obyek penelitian dan survey lapangan, survei dilakukan dengan cara survei permukaan, dengan mengamati bentuk-bentuk wadah kubur pada masing-masing situs yang kemudian dibuatkan sebuah font isian yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan temuan dan lingkungan sekitarnya dan akan dikelompokkan lagi dalam atribut-atribut kecil. Serta melakukan pendokumentasian wadah kubur, berupa foto, gambar serta melakukan pengambilan titik koordinat pada masing-masing situs.
Metode pengolahan data dilakukan dengan statistik sederhana berupa distribusi frekuensi dalam tahapan pengelompokan sedangkan pada tahapan analisis menggunakan analisis analisis tipologi yang kemudian dibagi lagi dalam dua bagian, yang pertama, analisis tempat, meliputi Letak wadah kubur,   fungsi wadah kubur, bekal kubur/temuan lain, penggunaan warna dan arah hadap wadah kubur dan yang kedua analisis bentuk meliputi bentuk/jenis temuan, ragam hias wadah kubur, ukuran wadah kubur (cm), teknik pembuatan dan bahan yang digunakan. Serta korelasi atau mencari hubungan antara satu data dengan data yang lain, dan kemudian dilakukan perbandingan atau studi komparasi, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, hal ini guna menarik kesimpulan secara umum.
Metode penafsiran data bersifat memberikan penjelasan, terutama menjawab persoalan-persoalan yang disesuaikan dengan tujuan serta permasalahan yang dirumuskan yang kemudian dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan secara umum. Analisis yang telah dilakukan diharapkan akan menghasilkan data pembanding yang nantinya akan diketahui persamaan dan perbedaan dari setiap wadah kubur yang dimaksud, serta mengetahui faktor-faktor yang melatar belakangi penyebab terjadinya perbedaan tersebut.
6.      Deskripsi Objek Penelitian
Lokasi penelitian berada di dua provinsi yang berbeda yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dengan mengambil empat lokasi yang berbeda, dan berikut penjabaran masing-masing daerah.
1.      Kabupaten Enrekang
Kabupaten Enrekang termasuk dalam salah satu wilayah dalam Provinsi Sulawesi Selatan, yang cukup banyak memiliki tinggalan berupa wadah kubur, salah satunya berada di Situs Liang datu. Situs ini terletak di Kecamatan Maiwa, Desa Palakka, Dusun Labale, secara astronomis berada pada 03º 338’ 04,6” LS dan 119 º 49’ 24,6” BT dan berada pada ketinggian 442 m dpl, Jarak antara situs dan pemukiman warga ± 1 Km, untuk menuju ke Situs Liang Datu harus melewati jalan pengerasan, menyusuri sungai, perkebunan milik penduduk, melalui jalan menanjak dengan menyusuri hutan yang cukup lebat, dan berjalan ditepi jurang sehingga digunakan tali untuk membantu penyeberang. Situs ini terletak di ceruk pada sebuah gua di bukit karst/kapur. Jumlah temuan wadah kubur/duni yang ada
Description: Description: E:\MULTIMEDIA\FOTO\ARKEOLOGI\penelitian Etha\FK Enrekang\IMG_0032 - Copy.JPG
Description: Description: E:\MULTIMEDIA\FOTO\ARKEOLOGI\penelitian Etha\FK Enrekang\IMG_0035 - Copy.JPG
Kondisi temuan pada Situs Liang Datu, pada bagian dalam dan kondisi lingkungan diluar situs (Dok. 2012)
sebanyak 27 buah

2.      Kabupaten Toraja Utara
Secara administrasi Situs Kete’kesu berada di Kecamatan Sanggalagi, Kelurahan Kesu, Kanpung Kesu’malenong dan masuk dalam lingkungan Bonarang. Situs Kete’kesu merupakan situs pemukiman yang termasuk dalam kampung adat Pekambiran. Secara astronomis terletak pada 02º 59’ 61,9” LS dan 119 º 54’ 37” BT. Adapun batas-batas situs ini antara lain: di utara berbatasan dengan Desa Tondon Naggula, di sebelah timur Desa La’bo, Buntu La’bo, di sebelah selatan Desa Tallu Lolo, Buntu Labo dan di sebelah barat berbatasan dengan Rinding Batu. Salah satu temuan yang banyak ditemukan disini berupa wadah kubur atau yang  biasa disebut erong, yang berjumlah 37 buah.




Description: E:\MULTIMEDIA\FOTO\ARKEOLOGI\penelitian Etha\FK Toraja\DSC_6168.JPG
Description: E:\MULTIMEDIA\FOTO\ARKEOLOGI\penelitian Etha\FK Toraja\DSC_6159.JPG
Situs Kete’kesu tampak luar dan tampak dalam
(Dok. 2012)


3.      Kabupaten Mamasa
Kabupaten Mamasa termasuk dalam provinsi Sulawesi Barat, ada dua objek penelitian yang digunakan sebagai sampel pembanding, yang pertama Situs Buntu Balla, terletak di Kecamatan Balla, Desa Balla, tepatnya berada disebelah selatan Mamasa dan secara astronomis 119019’13,7” BT dan 030 00’ 01,7” LS, untuk mencapai situs ini harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh ± tiga kilometer, jalan yang dilalui berupa bukit-bukit, lereng dan sungai, ke arah utara dari jalan poros menuju ke Mamasa. Kompleks Situs Balla terletak di atas bukit kecil yang di sekelilingnya diberi kawat berduri serta terdapat pintu gerbang. Temuan yang ada berupa Tedong-tedong dan Bangka-bangka yang jumlahnya 18 buah.
Kedua, Situs Paladan terletak di Kecamatan Sesena Padang, Desa Paladan tepatnya di sebelah selatan kantor desa. Situs ini berada di atas sebuah bukit yang mempunyai luas 14x32 meter, secara astronomis terletak 020º 59’ 53,0” LS dan 119° 022’ 56,2” BT  dan berada pada ketinggian 1342 mdpl. Terdapat 3 jenis wadah kubur disini yaitu bangka-Bangka, Tedong-tedong dan Batutu.
Description: D:\FOTO TEMUAN\BUNTU BALLA\3.JPG
Description: E:\OFFICE\BAHAN SKRIPSI E_SRI\WORDS\DARI MAMASA\Situs Paladan\DSC06433.JPG
Foto disebelah kiri adalah Situs Buntu Balla dan foto disebelah kanan adalah Situs paladan(Dok. 2012)


7.      Analisis Wadah Kubur
Analisis tipologi ialah suatu bentuk menganalisis temuan artefak berdasarkan bentuknya. guna mempermudah menjawab permasalah. Analisis tipologi dibagi dalam dua bagian yaitu analisis tempat dan analisis bentuk, sedangkan data lingkungan dan beberapa sumber bacaan terkait dengan situs serta data budayanya akan dijadikan bridging argument.
1.      Situs Liang Datu
-          Bentuk/jenis temuan: duni yang banyak ditemukan disini, yaitu bentuk perahu, baik yang berupa wadah maupun tutup wadah. Serta semua bentuk wadahnya persegi empat panjang, terdapat tujuh tipe bentuk duni. Bentuk perahu digunakan berdasarkan pada sistem kepercayaan dan suatu peristiwa kedatangan nenek moyang mereka.
-          Ragam hias wadah kubur: hanya memiliki satu ragam hias saja, yaitu pasusuk (berupa pahatan garis vertikal) yang merupakan salah satu ragam hias dasar atau gantoro’ pasura Toraja.
-          Ukuran wadah kubur: lebih dominan ukuran sedang, kemudian besar dan kecil. Ukuran suatu wadah juga melambangkan status sosial orang yang dikuburkan   
-          Bekal Kubur/temuan lain: tidak ditemukan bekal kubur, hanya berupa tulang-tulang manusia yang terdapat dalam wadah tersebut, hal ini mungkin disebabkan, tingginya tingkat kelembapan serta adanya penjarahan yang pernah terjadi.
-          Teknik pembuatan wadah kubur: dalam teknik pembuatan, lebih dominan teknik cungkil pahat bermotif, kemudian teknik pahat dan uid. Jika melihat dari teknik pembuatan masih sangat sederhana yang terbuat dari sebongkah kayu.   
-          Letak wadah kubur: wadah kubur ditemukan pada sebuah chamber yang berada di sebuah gua pada bukit karst. Wadah kubur tersebut terletak tanah/atau dilantai gua.
-          Bahan wadah kubur: bahan yang digunakan berupa kayu, lebih spesifik kayu bitti dan uru. Jenis kayu ini juga banyak ditemukan di sekitar wilayah tersebut serta ketahanan kayu yang tahan lama dan tergolong kuat.
-          Arah Hadap W.K (derajat): lebih dominan mengarah ke utara-selatan, hal ini juga berkaitan dengan aluk tojolo.
-          Fungsi W.K: berdasarkan jumlah temua yang ada didalam wadah serta ukuran wadahnya, dapat diambil kesimpulan, bahwa duni ini difungsikan sebagai penguburan primer.
-          Penggunaan Warna: tidak ditemukan penggunaan warna.

2.      Situs Kete’kesu
-          Bentuk/jenis temuan: ada banyak bentuk erong yang ada, tapi yang lebih dominan yaitu erong perahu, kemudian yang hanya berupa wadah, erong kerbau dan babi. Banyaknya bentuk wadah kubur juga merupakan lambang status sosial, berkaitan dengan sistem kepecayaan serta kehidupan sosial masyarakat.
-          Ragam hias W.K: ragam hias yang ditemukan jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan yang ada di Situs Liang Datu, serta ragam hias ini diterapkan hampir pada semua wadah kubur, pada setiap ragam hias mengandung makna serta dianggap sebagai lambang sosial,  serta beberapa ornamen dianggap sebagai perlambang penolak bala
-          Ukuran wadah kubur: ukuran erong lebih dominan disini, yaitu ukuran sedang, besar dan kecil. Perrbedaan ukuran dapat melambangkan kedudukan mereka dalam  masyarakat.
-          Bekal kubur/temuan lain: hanya ditemukan tulang-tulang manusia yang hampir terdapat pada semua erong, serta ditemukan pula temuan lain berupa kandea dulang dan tau-tau. Hal ini terkait dengan sistem kepercayaan mereka.
-          Teknik pembuatan W.K: lebih dominan teknik cungkil sambung bermotif, kemudian teknik cungkil pahat dan caungkil sambung. Jika dilihat dari pengerjaannya sudah cukup maju, mengingat teknik yang digunakan, serta bentuk erong itu sendiri sudah munlai bervariasi begitupun dalam ragam hiasnya, sudah mulai berkembang.
-          Letak W.K: tata letak erong, dibagi dalam tiga tempat namun yang lebih dominan berada diatas pondasi/ditopang, kemudian digantung dan yang berada dibawah tanah. Keletakan suatu wadah biasanya berdasarkan status sosial seseorang, semakin tinggi penempatan wadahnya maka itu menunjukkan semakin tinggi pula status yang dimilikinya.
-          Bahan W.K: bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan erong yaitu kayu, atau lebih spesifik dari jenis kayu uru, hal ini dikarenakan tumbuhan kayu uru atau kayu cempaka banyak ditemukan di daerah ini dan termasuk salah satu tumbuhan endemik yang ada di Toraja. Alasan lain karena kayu uru memiliki batang lurus, bulat, kulit batangnya halus, dan dapat bertahan hingga ratusan tahun lamanya.
-          Arah hadap wadah kubur: dapat diambil kesimpulan, arah timur-barat yang digunakan dalam penempatan erong disini. Dalam pandangan kosmologi orang Toraja, arah Timur-Barat selalu dihubungkan dengan fase-fase kehidupan, selain itu ketersediaan alam dalam hal ini, selain itu faktor ketersediaan alam (bukit karst) juga menjadi sebab, dipilihnya arah tersebut.
-          Fungi W.K: jika dikaitkan antara, temuan yang terdapat dalam wadah, ukuran wadah, dan tradisi yang masing berlangsung, dapat diambil kesimpulan, bahwa erong berfungsi sebagai penguburan kedua.
-          Penggunaan warna: tidak ditemukan penggunaan warna pada erong.
3.      Situs Buntu Balla
-          Bentuk/jenis temuan: lebih dominan bentuk tedong-tedong, lalu bentuk bangka-bangka. Bentuk wadah tersebut melambangkan kekayaan, status sosial, dan simbol kendaraan arwah yang erat kaitannya dengan sistem kepercayaan. Dalam segi bentuk wadahnya, terlihat bentuk bulat besar yang menunjukkan ini dibuat dari sebatang kayu gelondongan.
-          Ragam hias W.K: ada berbagai ragam hias yang ditemukan, namun hanya diterapkan pada beberapa wadah saja, selebihnya tidak memiliki hiasan/polos. Ragam hias juga berkaitan dengan status sosial dan ada beberapa bentuk ragam hias yang dianggap sebagai pelindung/penolak bala.
-          Ukuran W.K: lebih dominan ukuran besar pada bentuk wadah tedong-tedong. Ukuran diameter berkisar antara 75-120 cm, hal ini menunjukkan wadah ini cukup besar dan dapat menampung lebih dari satu orang. Ukuran yang besar juga terkait dengan status sosial orang yang dikuburkan. 
-          Bekal kubur/temuan lain: dari hasil penelitian yang dilakukan Balar Makassar, ditemukan bekal kubur berupa gelang kerang dan gelang perunggu. Serta banyak ditemukan tulang-tulang manusia yang kemungkinan lebih dari satu rangka.  
-          Teknik pembuatan wadah kubur: teknik yang banyak digunakan teknuk cungkil sambung, lalu teknik cungkil pahat, cungkil sambung bermotif dan uid. Dilihat dari teknik pembuatannya menunjukkan kemajuan dalam hal teknologinya, dimana sebelumnya hanya menggunakan teknik cungkil saja, tetapi disini lebih dominan teknik sambung dengan penambahan beberapa organ tubuh pada wadah tedon­g-tedong. Bentuk pengerjaannya terbilang halus dan hampir menyerupai anatomi kerbau.   
-          Letak W.K: wadah kubur terletak di bawah sebuah tadang yang berada diatas sebuah bukit, dan wadahnya dijejerkan, tidak terdapat pembagian ruang.
-          Bahan W.K: terbuat dari kayu uru, sama dengan yang digunakan di Toraja. Kayu uru memiliki tingkat kekerasan sedang tapi tahan lama, selain itu kayu uru mempunyai arti filosofis dimana dikatakan, kayu uru adalah salah satu jenis kayu yang berdaun lebat, mempunyai banyak tangkai dan selalu bertunas. Kayu tersebut tidak bisa mati walaupun selalu ditebang karena selalu tumbuh tunas baru untuk terus berkembang. Konsep pemikiran seperti itu berimplikasi pada suatu pemahaman bahwa, orang yang dikuburkan kedalam wadah kubur tersebut walaupun sudah mati tetapi keturunannya tetap berkembang terus, bagaikan pohon kayu uru yang selalu bertangkai dan tumbuh dengan subur walaupun selalu ditebang atau dipotong disamping ketahananya terhadap air dan panas matahari. Serta bahan kayu uru banyak ditemukan di Mamasa.
-          Arah hadap wadah kubur: menghadap ke timur-barat, sedangkan untuk tadang berorientasi pada utara-selatan, dipilihnya utara selatan menunjukkan masih adanya pengaruh Aluk Tomatua dalam penempatannya
-          Fungi wadah kubur: Jika melihat dari ukuran dan bekal kubur yang terdapat pada setiap wadah, besar kemungkinan wadah ini digunakan sebagai kuburan keluarga dan termasuk penguburan kedua (secondary burial),
-          Penggunaan warna: tidak ditemukan penggunaan warna.
4.      Situs Paladan
-          Bentuk/jenis temuan: temuan yang ada di situs ini hanya tiga, tetapi ketiga bentuk tersebut mewakili bentuk penguburan yang ada di Mamasa yaitu, bangka-bangka, tedong-tedong yang dipadukan dengan kepala kuda dan batutu. Bentuk yang demikian dianggap sebagai perlambang status sosial dan terdapat pengaruh dari sistem kepercayaan.  
-          Ragam hias wadah kubur: banyak varian ragam hias yang ditemukan, terutama pada tedong-tedong, dan bangunan tadang.. Sedangkan kedua wadah lainya tidak ditemukan ragam hias. Adanya ragam hias menunjukkan status sosial seseorang, serta beberapa bentuk ragam hias dipercaya sebagai penolak bala.
-          Ukuran wadah kubur: Rata-rata ukuran wadah yang ada disini cukup besar, sehingga cukup memuat lebh dari dua mayat atau lebih, disamping itu besarnya suatu ukuran makam melambangkan pula status pemiliknya.  
-          Bekal kubur/temuan lain: Pada masing-masing wadah hanya ditemukan tulang – tulang manusia saja, sedangkan untuk bekal kuburnya tidak disertakan. Temuan lain yang ada di sekitar makam, ditemukan  fragmen gerabah, rahang babi, tau-tau dan kandea dulang tipe bundar berkaki lengkung tinggi.
-          Teknik pembuatan wadah kubur: Teknik pembuatan yang ada disini menunjukkan kemajuan teknologi, jika dibandingkan dengan situs lain yang menjadi pembanding. Seperti pada tedong-tedong menggunakan teknik cungkil sambung bermotif, pada Bangka-bangka menggunakan teknik cungkil pahat. Dan pada Batutu teknik pembuatanya sudah lebih komplek yang memadukan beberapa teknik pembuatan rumah.
-          Letak wadah kubur: Letak dari ketiga wadah kubur berada di atas sebuah bukit pasir, disini temuan tersebut diletakan di bawah sebuah tadang, satu tadang untuk tedong-tedong dan satu tadang untuk Bangka-bangka bersamaan dengan batutu.
-          Bahan wadah kubur: Bahan dasar pembuatan wadah disini, terbuat dari kayu uru, sama seperti yang digunakan di Situs Buntu Balla. Hal ini pula didukung dari banyaknya kayu yang ada di sekitar situs, dan makna filosofi yang terkandung dalam kayu uru.   
-          Arah hadap wadah kubur: Kuburan tedong-tedong mempunyai arah hadap utara- selatan searah dengan tadang, begitu pula arah hadap batutu, sedangkan untuk bangka-bangka mengahadap timur-barat. 
-          Fungi W.K: dari data ukuran dan bekal kubur yang telah dijabarkan di atas, maka dapat disimpulkan, kuburan yang ada disini digunakan sebagai kubur kedua dari satu keluarga.
-          Penggunaan warna: Penggunaan warna lebih banyak ditemukan di situs ini, jika dibandingkan situs-situs lainnya. Seperti pada tedong-tedong ada yang menggunakan warna hitam, merah dan putih. Pada batutu lebih dominan warna hitam. 

8.      Kesimpulan
Penelitian terhadap wadah kubur dari kayu di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mulai mendapat perhatian akhir tahun 80-an, baik dari kalangan mahasiswa maupun dari peneliti dari instansi tertentu. Tercatat beberapa mahasisiwa arkeologi melakukan penelitian terkait dengan hal ini yang dibuat dalam karya ilmiah (skripsi).
Tercatat ada 15 orang melakukan penelitian terkait wadah kubur, yaitu Leoran(1989), Ruben Girikan (1989), Jampi (1990), Amar Busthanul (1991), Muh.Hasyim (1991), Abu Thalib(1992), Hasna Lili Patilak (1992), Daniel Tandibali (1992), Harsyad (1993),  Abdul Haris (1993), Markus Pappang (1994), marnice (2003), bentuk penelitian yang dilakukan bersifat deskripsi analitik atau merupakan suatu tinjauan arkeologi. Penelitian lebih lanjut kemudian di lakukan oleh Harsyad (1993) dan Faiz (2009) yang melakukan studi komparasi  terhadap tinggalan yang ada di selayar dan bulukumba untuk mencoba menggambarkan  konsep penguburan dengan mengambil data etnografi Toraja.
Awal tahun 2000 sejumlah penelitian dilakukan oleh Balai Arkeologi Makassar dan penelitian lainnya, yang dimuat dalam Jurnal Walannae seperti yang dilakukan oleh Bernadeta akw (2007) yang menulis “Erong salah satu bentuk wadah kubur di Tana Toraja, Sulawesi Selatan”, dan pada tahun 2009 juga menulis “bentuk-bentuk wadah penguburan dalam sistem kepercayaan masyarakat mamasa, sulawesi barat ” dalam penelitian ini bersifat deskripsi analitik yang berusaha mendata sebanyak mungkin temuan wadah kubur yang ada dan mengkaji makna dibalik ukiran yang ada. Penelitian lebih mendalam lagi dilakukan oleh Akin Duli (2011) yang tertuang dalam tulisan “kajian terhadap bentuk-bentuk penguburan kayu di Mamasa, Sulawesi Barat” dari hasil penelitian ini bukan hanya deskripsi analitik saja tetapi pengambilan sampel untuk pertanggalan juga dilakukan.
Terkait dengan penelitian yang dijabarkan, penelitian yang bersifat komparasi sudah pernah dilakukan (harsyad, 1993 dan fais, 2009), tetapi situs yang dijadikan sampel utama berada di daerah lain tidak berada dalam wilayah budaya Toraja. Sedangkan penelitian yang penulis lakukan juga melakukan studi komparasi terhadap wadah kubur pada tiga situs yang berbeda dalam satu wilayah budaya, guna mengetahui persamaan dan perbedaannya dan berikut kesimpulannya:









Dari pemaparan tabel di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.        Bentuk wadah kubur yang ada di Enrekang dapat dikatakan merupakan bentuk awal dari penguburan orang Toraja, yaitu bentuk perahu. Hal ini terkait dengan asal usul nenek moyang mereka yang datang dengan menggunakan perahu, disamping itu wadah kubur berbentuk perahu tidak hanya ditemukan disini saja bahkan di luar Sulawesi seperti di Mentawai, masyarakat yang tinggal di Siberut, Tanibar, di Kepulauan Kei, di Irian Barat Daya, di Sumba disebut kabang (kapal), di Pulau Roti disebut kopa tuwo (perahu), masyarakat Ngajuk di Kalimatan menyebut kariring (bangunan makam yang mirip bentuk perahu), yang hampir semuanya mempunyai bentuk menyerupai perahu. Jadi bentuk awal dari wadah kubur ialah bentuk perahu.
2.        Dilihat dari seni ragam hias yang digunakan yakni ragam hias pasusuk berupa ragam hias berbentuk garis-garis vertikal yang ada di situs liang datu dan beberapa situs lainnya di Enrekang,  bentuk ragam hias ini termasuk salah satu dari 4 dasar ragam hias Toraja. Sedangkan di Toraja dan Mamasa bentuk ragam hiasnya sudah lebih bervariasi.
3.        Pada segi bentuk pengerjaannya, bentuk yang ada di Enrekang menunjukkan bentuk pengerjaan yang sederhana. Mulai dari bentuk persegi empat saja, yang kemudian mulai berubah menjadi bentuk lonjong dan bahkan sudah ada bentuk wadah kubur yang dalam pengerjaannya sudah menggunakan teknik sambung dengan pengerjaan yang lebih halus dan motif hias yang mulai berkembang seperti yang ada di Toraja dan Mamasa.
4.        Bentuk penguburan yang ada di ketiga tempat tersebut memiliki kesamaan dengan bentuk penguburan yang ada di dataran Cina Selatan, yang memanfaatkan tebing ataupun ceruk pada bukit karst seperti pada situs. Hal ini mengindikasikan adanya kesamaan budaya yang ada dengan didukung data arkeologis yang memang membenarkan adanya proses migrasi bangsa Austronesia yang berasal dari cina selatan ke Nusantara.
5.        Dan jika dilihat dari segi fungsi wadah kubur dan dikaitkan dengan temuan tulang-tulang yang ada, bisa dikatakan duni awalnya difungsikan sebagai penguburan primer, seperti yang diketahui, penguburan primer merupakan bentuk awal yang digunakan masyarakat masa lampau.
Hasil pemaparan analisis pada masing-masing wadah kubur pada setiap situs, diketahui bahwa sistem kepercayaan, status sosial, sistem teknologi serta ketersediaan bahan di alam menjadi faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya persamaan dan perbedaan tersebut.



9.      Saran
Penelitian ini tidak lepas dari kekurangan, seperti tidak adanya dating kayu untuk pertanggalan yang jelas, dan perlunya pengambilan sampel lebih banyak lagi pada tiap kabupaten guna menarik kesimpulan secara umum. Selain itu perlu dilakukan penyelamatan data pada Situs Landatu dengan Situs Ketekesu.  Khusus untuk Kete’kesu, mengingat situs ini dijadikan sebagai objek wisata, sekiranya adanya pagar pembatas di sekitar erong, agar pengunjung tidak dengan leluasa memegang erong.























[1]   Istilah Austronesia pertama kali diberikan oleh ahli linguistik untuk menyebut suatu rumpun bahasa yang hampir secara mayoritas dituturkan di Asia Tenggara, kepulauan Micronesia, Melanesia kepulauan dan Polinesia. Tapi pada perkembangan selanjutnya istilah Austronesia juga digunakan untuk menyebut suatu komunitas yang berbudaya Austronesia serta menuturkan bahasa Austronesia. Austronesia sendiri berasal dari kata yunani “austr” artinya selatan dan “nesos” artinya pulau.
[2]  Suku toraja yang dalam hal ini bukan secara wilayah administratif tetapi wilaya budaya toraja, yang masuk di dalamnya kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Mamasa, Kabupaten Mamuju di daerah Kalumpang, Kabupaten Pinrang di Suppirang, Kabupaten Sidrap di Lombok, dan daerah-daerah pegunungan di Kabupaten Luwu (Larompang, Suli, Belopa, Bajo, Padang sappa, Ulu Salu, Kanna, Pantilang, Bua, Lamasi, Batu Sitanduk, Palopo, Seko dan Rongkong) (Fatmawati,2003:5-6).
[3] Situs Liang Datu  akan di jadikan situs pembanding mengingt temuannya yang cukup representatife.
[4]   Wilayah budaya yang di maksud Enrekang, Toraja dan Mamasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar