BENTUK
DUNI PADA SITUS LEANG DATU KABUPATEN ENREKANG
(STUDI KOMPARASI)
1. Pendahuluan
Keberadaan manusia yang ada pada
tempatnya sekarang merupakan proses migrasi yang sangat panjang dan sudah
dilakukan nenek moyang mereka sejak ribuan bahkan jutaan tahun silam. Begitu
pula orang-orang yang mendiami Asia Tenggara daratan dan kepulauan, pulau-pulau
di sekitar lautan Hindia dan Pasifik Selatan yang tidak lain mereka adalah
bangsa Austronesia[1],
dengan kemampuan navigasi yang baik tidak mengherankan ¼ bagian belahan dunia
dihuni oleh mereka. Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan,
menunjukkan bahwa bangsa Austronesia berasal dari Tiongkok bagian pesisir
tenggara (Devin, 2009:1-2).
Salah satu jalur migrasi yang
dilalui bangsa Austronesia ialah Kepulauan Nusantara, tinggalan budaya bangsa
Austronesia yang cukup banyak ditemukan di Nusantara berkaitan dengan kematian yaitu wadah kubur
dari kayu, yang ditemukan dibeberapa daerah dan salah satunya berada di
kepulauan Sulawesi, khususnya dalam wilayah budaya Toraja[2]
yang termasuk dalam ras Proto Melayu. Seperti Kabupaten Enrekang misalnya,
memiliki tinggalan wadah kubur kayu, yang disebut Duni
Beberapa situs yang ditemukan
memiliki duni antara lain di Situs
Liang Datu atau yang biasa disingkat Situs Landatu[3],
Situs Tonton 1 & Tonton 2, Situs Leoran, situs yang ada di Kaluppini dan
beberapa situs lainnya. Hasil penelitian yang dilakukan diketahui, duni merupakan wadah yang digunakaan
sebagai tempat menyimpan mayat dan ditempatkan pada ceruk atau tebing pada
bukit karst. Bentuk duni yang banyak ditemukan yaitu bentuk yang menyerupai
perahu (hal ini berkaitan dengan kedatangan nenek moyang mereka), serta hampir semua
situs di Enrekang bentuk wadahnya persegi empat panjang dengan berbagai varian
penutup wadah.
Melihat gejala arkeologis yang
disebutkan dan jika dikaitan dengan wilayah budaya[4]
ini merupakan sesuatu yang unik, seperti yang diketahui di Tana Toraja (Tondok Lempongan Bulan Matari’ Allo) memiliki banyak tinggalan wadah kubur yang disebut erong seperti pada Situs Kete’kesu, bentuknya menyerupai perahu, rumah adat
Toraja bahkan ada beberapa erong yang
ditemukan berbentuk anatomi binatang seperti Kerbau dan Babi. Jika dilihat dari
wadahnya mempunyai bentuk segiempat panjang, bulat lonjong atau oval. Di Mamasa
pada Situs Buntu Balla dan Paladan, bentuk wadah kuburnya berbentuk persegi
empat dan ada juga wadah kubur yang bentuknya hampir dikatakan bulat,
besar-besar dan menyerupai anatomi binatang Kerbau serta ada juga wadah yang
memadukan bentuk kepala Kerbau dengan kepala Kuda.
![]() |
![]() |
![]() |
|
Foto 1: Bentuk
duni di Enrekang (Kiri), bentuk erong di Toraja (tengah) dan bentuk tedong-tedong di Mamasa (kanan)
|
||
2. Rumusan Masalah
Peranan Kabupaten
Enrekang dalam proses migrasi Suku Toraja memang memegang peranan
penting, menurut Albert C. Kruyt dan Adriani mengatakan bahwa Enrekang
merupakan daerah yang dilalui dalam jalur imigrasi Suku Toraja. Enrekang juga
menjadi tempat bermukim pertama kali, serta tempat berkembangnya budaya Toraja yang berada di daerah Rura dan
Bambapuang yang termasuk dalam Kabupaten Enrekang sekarang. Tidak mengherankan
bila di kabupaten tersebut banyak tinggalan arkeologi ditemukan khususnya yang
menyangkut dengan wadah kubur yaitu duni,
yang juga memiliki kesamaan dengan bentuk wadah kubur di Toraja dan Mamasa,
walaupun begitu jika diamati secara cermat terdapat beberapa perbedaannya
seperti yang dijelaskan di atas.
Hal inilah yang
menjadi pertanyaan bagi penulis, mengapa dalam suatu kebudayaan yang sama
tetapi dalam hal tinggalan
budayanya berbeda dan apa yang menyebabkan hal tersebut, maka penulis kemudian
mencoba mengangkatnya sebagai tema penelitian,yang dirumuskan dalam bentuk
pertanyaan penelitian. Adapun pertanyaan penelitiannya yaitu sebagai berikut:
1. Apa persamaan
dan perbedaan duni pada Situs Liang Datu dengan wadah kubur di Toraja dan Mamasa?
2. Faktor-faktor apa yang melatar belakangi perbedaan dan
persamaan bentuk-bentuk duni pada Situs Liang
Datu dengan wadah kubur di Toraja dan di Mamasa?
3. Tujuan Penelitian
Para pakar arkeologi sepakat bahwa dalam disiplin ilmu arkeologi memiliki tiga
tujuan yaitu 1). Merekonstruksi sejarah budaya, 2).
Merekonstruksi tingkah laku/cara-cara hidup
manusia masa lampau, dan 3). Menjelaskan proses-proses budaya. Dengan melihat ketiga tujuan arkeologi tersebut maka tujuan umum yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini yaitu
merekonstruksi tingkah laku/cara-cara hidup manusia
masa lampau, namun secara khusus tujuan yang ingin
dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan duni di Situs Liang Datu dengan wadah kubur lainnya di daerah
pembanding.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang melatar belakangi bentuk-bentuk duni pada Situs Liang
Datu berbeda dengan bentuk Erong
di Toraja dan Tedong-tedong di Mamasa.
4. Kerangka Hipotesis
Nama Toraja
digunakan pertama kali dalam penelitian Albert C. kruyt dan Adriani untuk
mengganti nama Arfuru, nama Toraja
sendiri diambil dari nama yang biasa digunakan orang Luwu untuk menyebut
orang-orang yang bermukim di sebelah barat ke arah pedalam yang pada umumnya
menempati daerah ketinggian di jazirah Sulawesi dengan sebutan riaja atau raja (darat atau atas) yang kemudian dikenal menjadi nama suatu etnis, yaitu Toraja.
Ada dua
gelombang migrasi yang masuk ke wilayah budaya Toraja, migrasi pertama adalah
kelompok pendukung kebudayaan megalitik
yang disebut Steenhouwers (kelompok
pemecah batu). Mereka diperkirakan datang dari dua arah, pertama (dari utara)
diduga berasal dari kepulauan Jepang, memasuki Sulawesi Utara, terus ke
Sulawesi Tengah dan masuk ke Sulawesi Selatan. Kedua, melalui sungai Sa’dan
yang dimulai dari muara hingga ke hulu dengan menggunakan perahu, dan tiba di
suatu tempat bernama Bambapuang yang sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten
Enrekang dan menyebar lagi ke jazirah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
Migrasi
kedua adalah kelompok pendukung kebudayaan tembikar yang disebut De Pottenbakkers
(pembuat tembikar), diperkirakan
masuk melalui arah timur antara daerah Malili dan Wotu di pantai Teluk Bone dan
terus menyebar ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Migrasi kedua ini turut
serta membawa kebudayaan baru, terutama dalam kehidupan religi yang mengenal sejumlah dewa dan
upacara keagamaan, kehidupan sosial mulai mengenal sistem pelapisan sosial dan
sejumlah aturan-aturan hidup, dan kehidupan ekonomi yang memperkenalkan teknik
irigasi dan penanaman padi.
Awalnya Enrekang dan
Tana Toraja hanyalah satu daerah, pada waktu itu penduduk mula-mula bertempat
tinggal di suatu kampung bernama Bambapuang yang dikenal sekarang sebagai Kampung
Rura dan disitu juga diperkirakan berkembangnya Budaya Toraja, setelah berpuluh-puluh
tahun bahkan ratusan tahun lamanya tinggal di Bambapuang, akhirnya sebagian
besar penduduk meninggalkan tempat tersebut yang dibagi dakam tujuh kelompok
yang menyebar ke arah utara Sulawesi Selatan
dan sebagian lagi tetap tinggal di Bambapuang. Baik penduduk yang
berimigrasi maupun yang tetap tinggal di Bambapuang kemudian melanjutkan kebudayaan
Toraja yang lebih kompleks.
Budaya
Toraja sama halnya dengan budaya yang ada diseluruh dunia, pada umumnya
memiliki tujuh unsur kebudayaan yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi
sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian hidup,
sistem religi dan kesenian (Koendjaraningrat;218: 1980). Salah satu unsur yang
paling menonjol dalam budaya Toraja yaitu sistem religi, masyarakat Toraja sejak
zaman dulu mengenal adanya kepercayaan yang disebut Aluk Todolo, hal ini juga terdapat dibeberapa tempat yang masih
masuk dalam kesatuan wilayah budaya Toraja, namun dalam hal penyebutannya
berbeda-beda seperti di kabupaten Enrekang disebut Aluk Tojolo dan di Mamasa lebih dikenal dengan Aluk Tumatua, tapi pada dasarnya kepercayaan tersebut adalah sama
yakni berorientasi tentang adanya kehidupan sesudah kematian dan mengatur
segala aspek kehidupan manusia pendukungnya. Berikut beberapa persamaan budaya
Toraja yang ada di Enrekang, Toraja dan Mamasa
5. Metode Penelitian
Penelitian yang
berbasis karya ilmiah tentunya tidak lepas dari tujuan yang ingin dicapai, untuk
mencapai hasil yang maksimal dan dapat dipertanggung jawabkan, diperlukan suatu
sistem kerja yang sistematik yang terangkum dalam sebuah metodologi. Metode
yang digunakan tentu tidak lepas dari metode keilmuan yang mendasarinya yang
dalam hal ini menggunakan metode arkeologi.
Adapun tahap-tahap dalam
pelaksanaannya dimulai dari tahap
metode
pengumpulan data, yang dibagi lagi dalam dua tahap yaitu studi pustaka, merupakan metode awal yang digunakan untuk mencari data-data yang berkaitan dengan penelitian dari
referensi buku-buku,
makalah, artikel, hasil penelitian mahasiswa arkeologi
yang dituangkan dalam bentuk
skripsi, internet, bahkan sampai pada instansi-instansi yang mempunyai hubungan
dengan obyek penelitian
dan survey lapangan, survei dilakukan dengan cara survei
permukaan, dengan mengamati bentuk-bentuk wadah kubur pada masing-masing situs
yang kemudian dibuatkan sebuah font isian yang memuat hal-hal yang berkaitan
dengan temuan dan lingkungan sekitarnya dan akan dikelompokkan lagi dalam
atribut-atribut kecil. Serta melakukan pendokumentasian wadah kubur, berupa
foto, gambar serta melakukan pengambilan titik koordinat pada masing-masing
situs.
Metode
pengolahan data dilakukan dengan statistik sederhana berupa distribusi frekuensi dalam
tahapan pengelompokan sedangkan pada tahapan analisis menggunakan analisis
analisis tipologi yang kemudian dibagi lagi dalam dua bagian, yang pertama,
analisis tempat, meliputi Letak wadah kubur, fungsi
wadah kubur, bekal kubur/temuan lain, penggunaan warna dan arah hadap wadah
kubur dan yang kedua analisis bentuk meliputi bentuk/jenis temuan, ragam hias
wadah kubur, ukuran wadah kubur (cm), teknik pembuatan dan bahan yang digunakan.
Serta korelasi atau mencari hubungan antara satu data
dengan data yang lain, dan kemudian dilakukan perbandingan atau studi
komparasi, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, hal ini guna menarik
kesimpulan secara umum.
Metode penafsiran
data bersifat memberikan
penjelasan, terutama menjawab persoalan-persoalan yang disesuaikan dengan
tujuan serta permasalahan yang dirumuskan yang kemudian dijadikan dasar untuk
menarik kesimpulan secara umum.
Analisis
yang telah dilakukan diharapkan akan menghasilkan data pembanding yang nantinya
akan diketahui persamaan dan perbedaan dari setiap wadah kubur yang dimaksud, serta mengetahui faktor-faktor yang melatar belakangi penyebab terjadinya perbedaan tersebut.
6.
Deskripsi Objek Penelitian
Lokasi penelitian berada di dua provinsi yang berbeda
yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dengan mengambil empat lokasi yang
berbeda, dan berikut penjabaran masing-masing daerah.
1.
Kabupaten Enrekang
Kabupaten
Enrekang termasuk dalam salah satu wilayah dalam Provinsi Sulawesi Selatan,
yang cukup banyak memiliki tinggalan berupa wadah kubur, salah satunya berada
di Situs Liang datu. Situs ini terletak di Kecamatan Maiwa, Desa Palakka, Dusun
Labale, secara astronomis berada pada 03º 338’ 04,6” LS dan 119 º 49’ 24,6” BT
dan berada pada ketinggian 442 m dpl, Jarak antara situs dan pemukiman warga ±
1 Km, untuk menuju ke Situs Liang Datu harus melewati jalan pengerasan,
menyusuri sungai, perkebunan milik penduduk, melalui jalan menanjak dengan menyusuri
hutan yang cukup lebat, dan berjalan ditepi jurang sehingga digunakan tali
untuk membantu penyeberang. Situs ini terletak di ceruk pada sebuah gua di
bukit karst/kapur. Jumlah temuan wadah kubur/duni yang ada
![]() |
![]() |
|
Kondisi temuan pada Situs Liang
Datu, pada bagian dalam dan kondisi lingkungan diluar situs (Dok. 2012)
|
|
sebanyak 27 buah
2. Kabupaten Toraja Utara
Secara administrasi Situs Kete’kesu berada di
Kecamatan Sanggalagi, Kelurahan Kesu, Kanpung Kesu’malenong dan masuk dalam
lingkungan Bonarang. Situs Kete’kesu merupakan situs pemukiman yang termasuk
dalam kampung adat Pekambiran. Secara astronomis terletak pada 02º 59’ 61,9” LS
dan 119 º 54’ 37” BT. Adapun batas-batas situs ini antara lain: di utara
berbatasan dengan Desa Tondon
Naggula, di sebelah timur Desa
La’bo, Buntu La’bo, di sebelah selatan Desa Tallu Lolo, Buntu Labo dan di sebelah
barat berbatasan dengan Rinding
Batu.
Salah satu temuan yang banyak ditemukan disini berupa wadah kubur atau
yang biasa disebut erong, yang berjumlah
37 buah.
![]() |
![]() |
|
Situs Kete’kesu tampak luar dan tampak
dalam
(Dok. 2012)
|
|
3. Kabupaten
Mamasa
Kabupaten Mamasa
termasuk dalam provinsi Sulawesi Barat, ada dua objek penelitian yang digunakan
sebagai sampel pembanding, yang pertama Situs Buntu Balla, terletak di
Kecamatan Balla, Desa Balla, tepatnya berada disebelah selatan Mamasa dan
secara astronomis 119019’13,7” BT dan 030 00’ 01,7” LS, untuk
mencapai situs ini harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh ± tiga kilometer,
jalan yang dilalui berupa bukit-bukit, lereng dan sungai, ke arah utara dari
jalan poros menuju ke Mamasa. Kompleks Situs Balla terletak di atas bukit kecil
yang di sekelilingnya diberi kawat berduri serta terdapat pintu gerbang. Temuan
yang ada berupa Tedong-tedong dan Bangka-bangka yang
jumlahnya 18 buah.
Kedua, Situs
Paladan terletak di Kecamatan Sesena Padang, Desa Paladan tepatnya di sebelah
selatan kantor desa. Situs ini berada di atas sebuah bukit yang mempunyai luas 14x32
meter, secara astronomis terletak 020º 59’ 53,0” LS dan 119° 022’ 56,2” BT dan berada pada ketinggian 1342 mdpl. Terdapat
3 jenis wadah kubur disini yaitu bangka-Bangka, Tedong-tedong dan Batutu.
![]() |
![]() |
|
Foto disebelah kiri adalah Situs Buntu Balla dan foto
disebelah kanan adalah Situs paladan(Dok. 2012)
|
|
7.
Analisis Wadah Kubur
Analisis tipologi ialah
suatu bentuk menganalisis temuan artefak berdasarkan bentuknya. guna mempermudah
menjawab permasalah. Analisis tipologi dibagi dalam dua bagian yaitu analisis
tempat dan analisis bentuk, sedangkan data lingkungan dan beberapa sumber
bacaan terkait dengan situs serta data budayanya akan dijadikan bridging argument.
1. Situs Liang Datu
-
Bentuk/jenis temuan: duni yang banyak ditemukan disini, yaitu
bentuk perahu, baik yang berupa wadah maupun tutup wadah. Serta semua bentuk
wadahnya persegi empat panjang, terdapat tujuh tipe bentuk duni. Bentuk perahu
digunakan berdasarkan pada sistem kepercayaan dan suatu peristiwa kedatangan
nenek moyang mereka.
-
Ragam hias wadah kubur: hanya memiliki
satu ragam hias saja, yaitu pasusuk (berupa
pahatan garis vertikal) yang merupakan salah satu ragam hias dasar atau gantoro’ pasura Toraja.
-
Ukuran wadah kubur: lebih dominan ukuran
sedang, kemudian besar dan kecil. Ukuran suatu wadah juga melambangkan status
sosial orang yang dikuburkan
-
Bekal Kubur/temuan lain: tidak ditemukan
bekal kubur, hanya berupa tulang-tulang manusia yang terdapat dalam wadah
tersebut, hal ini mungkin disebabkan, tingginya tingkat kelembapan serta adanya
penjarahan yang pernah terjadi.
-
Teknik pembuatan wadah kubur: dalam
teknik pembuatan, lebih dominan teknik cungkil pahat bermotif, kemudian teknik
pahat dan uid. Jika melihat dari teknik pembuatan masih sangat sederhana yang
terbuat dari sebongkah kayu.
-
Letak wadah kubur: wadah kubur ditemukan
pada sebuah chamber yang berada di sebuah
gua pada bukit karst. Wadah kubur tersebut terletak tanah/atau dilantai gua.
-
Bahan wadah kubur: bahan yang digunakan
berupa kayu, lebih spesifik kayu bitti
dan uru. Jenis kayu ini juga banyak
ditemukan di sekitar wilayah tersebut serta ketahanan kayu yang tahan lama dan
tergolong kuat.
-
Arah Hadap W.K (derajat): lebih dominan
mengarah ke utara-selatan, hal ini juga berkaitan dengan aluk tojolo.
-
Fungsi W.K: berdasarkan jumlah temua
yang ada didalam wadah serta ukuran wadahnya, dapat diambil kesimpulan, bahwa
duni ini difungsikan sebagai penguburan primer.
-
Penggunaan Warna: tidak ditemukan
penggunaan warna.
2. Situs Kete’kesu
-
Bentuk/jenis temuan: ada banyak bentuk erong yang ada, tapi yang lebih dominan
yaitu erong perahu, kemudian yang
hanya berupa wadah, erong kerbau dan
babi. Banyaknya bentuk wadah kubur juga merupakan lambang status sosial,
berkaitan dengan sistem kepecayaan serta kehidupan sosial masyarakat.
-
Ragam hias W.K: ragam hias yang
ditemukan jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan yang ada di Situs Liang
Datu, serta ragam hias ini diterapkan hampir pada semua wadah kubur, pada
setiap ragam hias mengandung makna serta dianggap sebagai lambang sosial, serta beberapa ornamen dianggap sebagai
perlambang penolak bala
-
Ukuran wadah kubur: ukuran erong lebih dominan disini, yaitu ukuran
sedang, besar dan kecil. Perrbedaan ukuran dapat melambangkan kedudukan mereka dalam
masyarakat.
-
Bekal kubur/temuan lain: hanya ditemukan
tulang-tulang manusia yang hampir terdapat pada semua erong, serta ditemukan pula temuan lain berupa kandea dulang dan tau-tau.
Hal ini terkait dengan sistem kepercayaan mereka.
-
Teknik pembuatan W.K: lebih dominan
teknik cungkil sambung bermotif, kemudian teknik cungkil pahat dan caungkil
sambung. Jika dilihat dari pengerjaannya sudah cukup maju, mengingat teknik
yang digunakan, serta bentuk erong itu sendiri sudah munlai bervariasi
begitupun dalam ragam hiasnya, sudah mulai berkembang.
-
Letak W.K: tata letak erong, dibagi dalam tiga tempat namun yang
lebih dominan berada diatas pondasi/ditopang, kemudian digantung dan yang
berada dibawah tanah. Keletakan suatu wadah biasanya berdasarkan status sosial
seseorang, semakin tinggi penempatan wadahnya maka itu menunjukkan semakin
tinggi pula status yang dimilikinya.
-
Bahan W.K: bahan dasar yang digunakan
dalam pembuatan erong yaitu kayu, atau lebih spesifik dari jenis kayu uru, hal ini dikarenakan tumbuhan kayu uru atau kayu cempaka banyak ditemukan
di daerah ini dan termasuk salah satu tumbuhan endemik yang ada di Toraja.
Alasan lain karena kayu uru memiliki
batang lurus, bulat, kulit batangnya halus, dan dapat bertahan hingga ratusan
tahun lamanya.
-
Arah hadap wadah kubur: dapat diambil
kesimpulan, arah timur-barat yang digunakan dalam penempatan erong disini. Dalam pandangan kosmologi
orang Toraja, arah Timur-Barat selalu dihubungkan dengan fase-fase kehidupan,
selain itu ketersediaan alam dalam hal ini, selain itu faktor ketersediaan alam
(bukit karst) juga menjadi sebab, dipilihnya arah tersebut.
-
Fungi W.K: jika dikaitkan antara, temuan
yang terdapat dalam wadah, ukuran wadah, dan tradisi yang masing berlangsung,
dapat diambil kesimpulan, bahwa erong
berfungsi sebagai penguburan kedua.
-
Penggunaan warna: tidak ditemukan
penggunaan warna pada erong.
3. Situs Buntu Balla
-
Bentuk/jenis temuan: lebih dominan
bentuk tedong-tedong, lalu bentuk bangka-bangka. Bentuk wadah tersebut melambangkan
kekayaan, status sosial, dan simbol kendaraan arwah yang erat kaitannya dengan
sistem kepercayaan. Dalam segi bentuk wadahnya, terlihat bentuk bulat besar
yang menunjukkan ini dibuat dari sebatang kayu gelondongan.
-
Ragam hias W.K: ada berbagai ragam hias
yang ditemukan, namun hanya diterapkan pada beberapa wadah saja, selebihnya
tidak memiliki hiasan/polos. Ragam hias juga berkaitan dengan status sosial dan
ada beberapa bentuk ragam hias yang dianggap sebagai pelindung/penolak bala.
-
Ukuran W.K: lebih dominan ukuran besar
pada bentuk wadah tedong-tedong. Ukuran diameter berkisar antara
75-120 cm, hal ini menunjukkan wadah ini cukup besar dan dapat menampung lebih
dari satu orang. Ukuran yang besar juga terkait dengan status sosial orang yang
dikuburkan.
-
Bekal kubur/temuan lain: dari hasil
penelitian yang dilakukan Balar Makassar, ditemukan bekal kubur berupa gelang
kerang dan gelang perunggu. Serta banyak ditemukan tulang-tulang manusia yang
kemungkinan lebih dari satu rangka.
-
Teknik pembuatan wadah kubur: teknik
yang banyak digunakan teknuk cungkil sambung, lalu teknik cungkil pahat,
cungkil sambung bermotif dan uid. Dilihat dari teknik pembuatannya menunjukkan
kemajuan dalam hal teknologinya, dimana sebelumnya hanya menggunakan teknik
cungkil saja, tetapi disini lebih dominan teknik sambung dengan penambahan
beberapa organ tubuh pada wadah tedong-tedong. Bentuk pengerjaannya terbilang halus
dan hampir menyerupai anatomi kerbau.
-
Letak W.K: wadah kubur terletak di bawah
sebuah tadang yang berada diatas
sebuah bukit, dan wadahnya dijejerkan, tidak terdapat pembagian ruang.
-
Bahan W.K: terbuat dari kayu uru, sama dengan yang digunakan di
Toraja. Kayu uru memiliki
tingkat kekerasan sedang tapi tahan lama, selain itu kayu uru mempunyai
arti filosofis dimana dikatakan, kayu uru
adalah salah satu jenis kayu yang berdaun lebat, mempunyai banyak tangkai dan
selalu bertunas. Kayu tersebut tidak bisa mati walaupun selalu ditebang karena
selalu tumbuh
tunas baru untuk terus berkembang. Konsep
pemikiran seperti itu berimplikasi pada suatu pemahaman bahwa,
orang yang dikuburkan kedalam wadah kubur tersebut walaupun sudah mati tetapi
keturunannya
tetap berkembang terus, bagaikan pohon kayu uru
yang selalu bertangkai dan tumbuh dengan subur walaupun selalu ditebang atau dipotong disamping
ketahananya terhadap air dan panas matahari. Serta bahan kayu uru banyak ditemukan di Mamasa.
-
Arah hadap wadah kubur: menghadap ke
timur-barat, sedangkan untuk tadang
berorientasi pada utara-selatan, dipilihnya utara selatan menunjukkan masih
adanya pengaruh Aluk Tomatua dalam penempatannya
-
Fungi wadah kubur: Jika melihat dari
ukuran dan bekal kubur yang terdapat pada setiap wadah, besar kemungkinan wadah
ini digunakan sebagai kuburan keluarga dan termasuk penguburan kedua (secondary burial),
-
Penggunaan warna: tidak ditemukan
penggunaan warna.
4. Situs Paladan
-
Bentuk/jenis temuan: temuan yang ada di situs
ini hanya tiga, tetapi ketiga bentuk tersebut mewakili bentuk penguburan yang
ada di Mamasa yaitu, bangka-bangka, tedong-tedong yang
dipadukan dengan kepala kuda dan batutu.
Bentuk yang demikian dianggap sebagai perlambang status sosial dan terdapat
pengaruh dari sistem kepercayaan.
-
Ragam hias wadah kubur: banyak varian
ragam hias yang ditemukan, terutama pada tedong-tedong, dan bangunan tadang.. Sedangkan kedua wadah lainya
tidak ditemukan ragam hias. Adanya ragam hias menunjukkan status sosial
seseorang, serta beberapa bentuk ragam hias dipercaya sebagai penolak bala.
-
Ukuran wadah kubur: Rata-rata ukuran
wadah yang ada disini cukup besar, sehingga cukup memuat lebh dari dua mayat
atau lebih, disamping itu besarnya suatu ukuran makam melambangkan pula status
pemiliknya.
-
Bekal kubur/temuan lain: Pada
masing-masing wadah hanya ditemukan tulang – tulang manusia saja, sedangkan
untuk bekal kuburnya tidak disertakan. Temuan lain yang ada di sekitar makam,
ditemukan fragmen gerabah, rahang babi, tau-tau
dan kandea dulang tipe bundar berkaki lengkung tinggi.
-
Teknik pembuatan wadah kubur: Teknik
pembuatan yang ada disini menunjukkan kemajuan teknologi, jika dibandingkan
dengan situs lain yang menjadi pembanding. Seperti pada tedong-tedong
menggunakan teknik cungkil sambung bermotif, pada Bangka-bangka menggunakan teknik cungkil pahat. Dan pada Batutu teknik pembuatanya sudah lebih
komplek yang memadukan beberapa teknik pembuatan rumah.
-
Letak wadah kubur: Letak dari ketiga
wadah kubur berada di atas sebuah bukit pasir, disini temuan tersebut diletakan
di bawah sebuah tadang, satu tadang untuk tedong-tedong dan satu tadang untuk Bangka-bangka bersamaan
dengan batutu.
-
Bahan wadah kubur: Bahan dasar pembuatan
wadah disini, terbuat dari kayu uru,
sama seperti yang digunakan di Situs Buntu Balla. Hal ini pula didukung dari
banyaknya kayu yang ada di sekitar situs, dan makna filosofi yang terkandung
dalam kayu uru.
-
Arah hadap wadah kubur: Kuburan tedong-tedong mempunyai arah hadap utara- selatan searah dengan tadang, begitu pula arah hadap batutu, sedangkan untuk bangka-bangka mengahadap timur-barat.
-
Fungi W.K: dari data ukuran dan bekal
kubur yang telah dijabarkan di atas, maka dapat disimpulkan, kuburan yang ada
disini digunakan sebagai kubur kedua dari satu keluarga.
-
Penggunaan warna: Penggunaan warna lebih
banyak ditemukan di situs ini, jika dibandingkan situs-situs lainnya. Seperti
pada tedong-tedong ada yang menggunakan warna hitam, merah dan putih. Pada batutu lebih dominan warna hitam.
8.
Kesimpulan
Penelitian terhadap wadah kubur dari
kayu di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mulai mendapat perhatian akhir
tahun 80-an, baik dari kalangan mahasiswa maupun dari peneliti dari instansi
tertentu. Tercatat beberapa mahasisiwa arkeologi melakukan penelitian terkait
dengan hal ini yang dibuat dalam karya ilmiah (skripsi).
Tercatat ada 15 orang melakukan
penelitian terkait wadah kubur, yaitu Leoran(1989), Ruben Girikan (1989), Jampi
(1990), Amar Busthanul (1991), Muh.Hasyim (1991), Abu Thalib(1992), Hasna Lili
Patilak (1992), Daniel Tandibali (1992), Harsyad (1993), Abdul Haris (1993), Markus Pappang (1994),
marnice (2003), bentuk penelitian yang dilakukan bersifat deskripsi analitik
atau merupakan suatu tinjauan arkeologi. Penelitian lebih lanjut kemudian di
lakukan oleh Harsyad (1993) dan Faiz (2009) yang melakukan studi komparasi terhadap tinggalan yang ada di selayar dan
bulukumba untuk mencoba menggambarkan
konsep penguburan dengan mengambil data etnografi Toraja.
Awal tahun 2000 sejumlah penelitian
dilakukan oleh Balai Arkeologi Makassar dan penelitian lainnya, yang dimuat
dalam Jurnal Walannae seperti yang dilakukan oleh Bernadeta akw (2007) yang menulis
“Erong salah satu bentuk wadah kubur di Tana Toraja, Sulawesi Selatan”, dan
pada tahun 2009 juga menulis “bentuk-bentuk wadah penguburan dalam sistem
kepercayaan masyarakat mamasa, sulawesi barat ” dalam penelitian ini bersifat
deskripsi analitik yang berusaha mendata sebanyak mungkin temuan wadah kubur
yang ada dan mengkaji makna dibalik ukiran yang ada. Penelitian lebih mendalam
lagi dilakukan oleh Akin Duli (2011) yang tertuang dalam tulisan “kajian
terhadap bentuk-bentuk penguburan kayu di Mamasa, Sulawesi Barat” dari hasil
penelitian ini bukan hanya deskripsi analitik saja tetapi pengambilan sampel
untuk pertanggalan juga dilakukan.
Terkait
dengan penelitian yang dijabarkan, penelitian yang bersifat komparasi sudah
pernah dilakukan (harsyad, 1993 dan fais, 2009), tetapi situs yang dijadikan
sampel utama berada di daerah lain tidak berada dalam wilayah budaya Toraja.
Sedangkan penelitian yang penulis lakukan juga melakukan studi komparasi
terhadap wadah kubur pada tiga situs yang berbeda dalam satu wilayah budaya,
guna mengetahui persamaan dan perbedaannya dan berikut kesimpulannya:


Dari
pemaparan tabel di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.
Bentuk wadah kubur yang ada di Enrekang
dapat dikatakan merupakan bentuk awal dari penguburan orang Toraja, yaitu
bentuk perahu. Hal ini terkait dengan asal usul nenek moyang mereka yang datang
dengan menggunakan perahu, disamping itu wadah kubur berbentuk perahu tidak
hanya ditemukan disini saja bahkan di luar Sulawesi seperti di Mentawai,
masyarakat yang tinggal di Siberut, Tanibar, di Kepulauan Kei, di Irian Barat
Daya, di Sumba disebut kabang (kapal),
di Pulau Roti disebut kopa tuwo (perahu),
masyarakat Ngajuk di Kalimatan menyebut kariring
(bangunan makam yang mirip bentuk perahu), yang hampir semuanya mempunyai
bentuk menyerupai perahu. Jadi bentuk awal dari wadah kubur ialah bentuk
perahu.
2.
Dilihat dari seni ragam hias yang
digunakan yakni ragam hias pasusuk
berupa ragam hias berbentuk garis-garis vertikal yang ada di situs liang datu
dan beberapa situs lainnya di Enrekang,
bentuk ragam hias ini termasuk salah satu dari 4 dasar ragam hias Toraja.
Sedangkan di Toraja dan Mamasa bentuk ragam hiasnya sudah lebih bervariasi.
3.
Pada segi bentuk pengerjaannya, bentuk
yang ada di Enrekang menunjukkan bentuk pengerjaan yang sederhana. Mulai dari
bentuk persegi empat saja, yang kemudian mulai berubah menjadi bentuk lonjong
dan bahkan sudah ada bentuk wadah kubur yang dalam pengerjaannya sudah
menggunakan teknik sambung dengan pengerjaan yang lebih halus dan motif hias
yang mulai berkembang seperti yang ada di Toraja dan Mamasa.
4.
Bentuk penguburan yang ada di ketiga
tempat tersebut memiliki kesamaan dengan bentuk penguburan yang ada di dataran
Cina Selatan, yang memanfaatkan tebing ataupun ceruk pada bukit karst seperti
pada situs. Hal ini mengindikasikan adanya kesamaan budaya yang ada dengan
didukung data arkeologis yang memang membenarkan adanya proses migrasi bangsa
Austronesia yang berasal dari cina selatan ke Nusantara.
5.
Dan jika dilihat dari segi fungsi wadah
kubur dan dikaitkan dengan temuan tulang-tulang yang ada, bisa dikatakan duni awalnya difungsikan sebagai
penguburan primer, seperti yang diketahui, penguburan primer merupakan bentuk
awal yang digunakan masyarakat masa lampau.
Hasil
pemaparan analisis pada masing-masing wadah kubur pada setiap situs, diketahui
bahwa sistem kepercayaan, status sosial, sistem teknologi serta ketersediaan
bahan di alam menjadi faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya persamaan dan
perbedaan tersebut.
9. Saran
Penelitian ini tidak lepas dari
kekurangan, seperti tidak adanya dating kayu untuk pertanggalan yang jelas, dan
perlunya pengambilan sampel lebih banyak lagi pada tiap kabupaten guna menarik
kesimpulan secara umum. Selain itu perlu dilakukan penyelamatan data pada Situs
Landatu dengan Situs Ketekesu. Khusus
untuk Kete’kesu, mengingat situs ini dijadikan sebagai objek wisata, sekiranya
adanya pagar pembatas di sekitar erong,
agar pengunjung tidak dengan leluasa memegang erong.
[1] Istilah
Austronesia pertama kali diberikan oleh ahli linguistik untuk menyebut suatu
rumpun bahasa yang hampir secara mayoritas dituturkan di Asia Tenggara,
kepulauan Micronesia, Melanesia kepulauan dan Polinesia. Tapi pada perkembangan
selanjutnya istilah Austronesia juga digunakan untuk menyebut suatu komunitas
yang berbudaya Austronesia serta menuturkan bahasa Austronesia. Austronesia sendiri
berasal dari kata yunani “austr” artinya selatan dan “nesos” artinya pulau.
[2] Suku toraja yang dalam hal ini bukan secara
wilayah administratif tetapi wilaya budaya toraja, yang masuk di dalamnya
kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Mamasa, Kabupaten Mamuju
di daerah Kalumpang, Kabupaten Pinrang di Suppirang, Kabupaten Sidrap di
Lombok, dan daerah-daerah pegunungan di Kabupaten Luwu (Larompang, Suli,
Belopa, Bajo, Padang sappa, Ulu Salu, Kanna, Pantilang, Bua, Lamasi, Batu
Sitanduk, Palopo, Seko dan Rongkong) (Fatmawati,2003:5-6).









Tidak ada komentar:
Posting Komentar